Minggu, 13 Mei 2018

Kepemimpinan dalam Perspektif Orang Melayu


 

Kepemimpinan dalam Perspektif Suku Melayu

     Pemimpin merupakan hal yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Menjadi pemimpin tidaklah mudah bahkan tidak semua orang yang memiliki kekuasaan mampu menjadi pemimpin yang baik. Meski menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah namun setiap orang diharuskan mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Dalam bahasa melayu kata pemimpin lebih merujuk kepada kata kerja  “menolong seseorang yang lemah kondisinya”. Bangsa melayu juga memaknai kata pemimpin melalui pepatah lama yang berbunyi :

                Yang didahulukan selangkah

                Yang ditinggikan seranting

                Yang dilebihkan serambut

                Yang dimuliakan sekuku

        Tidak hanya melalui pepatah lama, bangsa melayu juga memaknai kata pemimpin melalui berbagai  Karya-karya sastra melayu lainnya. Orang-orang tua melayu juga mengatakan :

                Bertuah ayam ada induknya

                Bertuah serai ada rumpunnya

                Bertuah rumah ada tuanya

                Bertuah kampung ada penghulunya

                Bertuah negeri ada rajanya

                Bertuah imam ada jemaahnya

            Melalui berbagai ungkapan pepatah lama maupun Karya-karya sastra tersebut dapat di katakan bahwa orang melayu telah memaknai pemimpin sebagai orang yang memiliki banyak pengetahuan, yang merelakan kepentingan diri sendiri demi kepentingan orang banyak, taat, bijaksana, mampu membimbing  melindungi, dan dapat menuntun masyarakat menuju kesejahteraan. Melalui ungkapan orang tua-tua melayu juga dapat di tarik kesimpulan bahwa sejak dulu orang melayu telah mengetahui pentingnya pemimpin dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat.

            Etika kepemimpinan dalam tradisi melayu sangat identik dengan konsep-konsep Islam. Nuansa Islam sangat kental dengan budaya melayu. Seperti arti karya sastra sebelumnya pemimpin merupakan orang yang diberi kelebihan untuk mengurus kepentingan orang lain bukan berarti raja akan sama seperti dewa yang mempunyai kesalahan mutlak dan tidak bisa tersentuh oleh masyarakatnya. Namun sejatinya pemimpin harus berada ditengah-tengah rakyatnya.

            Ada beberapa karya sastra berbentuk syair melayu yang menggambarkan budi pekerti mutlak yang harus dimiliki seorang pemimpin diantaranya :

            Sebagai pemimpin banyak tahunya 

            Tahu duduk pada tempatnya

            Tahu tegak pada layaknya

            Tahu kata yang berpangkal

            Tahu kata yang berpokok

  Sebagai Pemimpin banyak tahannya

            Tahan berhujan mau berpanas

            Tahan bersusah berpenat lelah

            Tahan berlenjin tak kering kain

            Tahan berteruk sepepak teluk

            Sebagai pemimpin banyak bijaknya

            Bijak menyukat sama papat

            Bijak mengukur sama panjang

            Bijak menimbang sama berat

            Bijak member kata putus

            Sebagai pemimpin banyak cerdiknya

            Cerdiknya mengurung dengan lidah

            Cerdik mengikat dengan adat

            Cerdik menyimak dengan syarak

            Cerdik berunding sama sebanding

            Cerdik mufakat sama setingkat

            Cerdik mengalah tidak kalah

            Cerdik berlapang dalam sempit

            Cerdik berlayar dalam perahu bocor

            Cerdik duduk tidak suntuk

            Cerdik tegak tidak bersundak

            Menurut Raja Ali Haji, setidaknya ada tiga tugas pokok seorang pemimpin menurut budaya melayu :

  1. Seorang pemimpin haruslah merakyat. Seorang pemimpin harus memiliki hubungan yang harmonis dengan rakyatnya dan mencerminkan rakyatnya. Pemimpin ada karena rakyat maka Raja Ali Haji mengumpamakan seperti akar dan pohon dimana akar adalah rakyat dan pohon adalah pemimpin. 
  2. Pemimpin harus terbuka terhadap kritik namun harus berhati-hati terhadap kritik. Menurut Raja Ali Haji kritik ada tiga yaitu kritik berasal dari setan, berasal dari hawa nafsu dan berasal dari malaikat.
  3. Pemimpin tidak boleh membeda-bedakan rakyat. Dengan kata lain pemimpin harus adil.

            Dalam perspektif melayu, seorang pemimpin di tuntut  dan wajib memiliki kepribadian terpuji sesuai dengan nilai ajaran islami. Seorang pemimpin pada dasarnya adalah seorang nakhoda, di tuntut harus mampu menakhodai kapalnya supaya selamat sampai ke pulau sehingga ia harusnya paham. Akan tetapi bukan hanya sekedar paham. Paham mengandung dimensi capability, capacity, credibility, dan integrity pula.

            Pada zaman milenial saat ini banyak krisis kepemimpinan yang terjadi. Melihat kondisi saat ini, pemimpin melayu  dan kebudayaan harus menjadi contoh bagi para pemimpin saat ini. Sosok seperti Suman Hs. Tokoh karismatik Riau yang dikenal sebagai sosok pemimpin yang berwibawa, bersahaja, dan sangat dekat dengan nilai-nilai kepemimpinan dalam khazanah Melayu. Indonesia juga membutuhkan figur Raja Ali Haji yang dikenal mampu membangkitkan motivasi masyarakat dan umat. Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu memberikan semangat kepada rakyatnya, bukan yang menghasilkan sifat pesimis bagi rakyatnya. Perbaiki kepemimpinan bangsa melalui kebudayaan melayu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar